Minggu, 07 Desember 2008

SMA - Student Centered Learning

Pada student centered learning, siswa mencari dan mengkonstruksi pengetahuan lewat berbagai strategi, dimana siswa bersifat aktif spesifik. Student centered learning sering dinamakan pembelajaran. Aktivitas belajar berpusat pada siswa dalam bentuk diskusi, mengerjakan tugas bersama, saling membantu dan saling mendukung dalam memecahkan masalah. Melalui interaksi belajar yang efektif siswa lebih termotivasi, percaya diri, mampu menggunakan strategi berpikir tingkat tinggi, serta mampu membangun hubungan interpersonal.
Student centered lerning memusatkan perencanaan, pengajaran dan penilaian semuanya berdasarkan pada kemampuan dan kebutuhan siswa. Intinya bahwa proses belajar akan sangat berarti apabila siswa merasa tertarik dan senang dengan materi yang sedang ia pelajari. Siswa akan merasa termotivasi apabila mereka dilibatkan dalam setiap proses pembelajaran dan pengajaran, pemilihan topik sampai pada penilaian.

SMA - Teacher Centered Instructional Strategies

1.1.1 Orienting

Bangun dasar dari pelajaran materi baru sebelum menjelaskan materi baru tersebut (Santrock, 2001).

1.1.2 Lecturing, Explaining dan Demonstrating

Lecturing, explaining dan demonstrating adalah aktivitas guru yang digunakan dalam pendekatan instruksional langsung. Penelitian telah menemukan bahwa guru yang efektif membuang banyak waktu untuk menjelaskan dan mendemonstrasikan materi baru daripada guru yang tidak efektif.

1.1.3 Questioning dan Discussing

Penggunaan strategi ini sangat penting dalam mencari tahu respon kebutuhan belajar setiap murid ketika berada pada perhatian dan ketertarikan kelompok. Pola pengajaran dari guru meliputi initiation (guru menanyakan pertanyaan), response (murid menjawab), dan reaction (pujian, pembetulan dan perluasan). Pola pengajaran tersebut akan efektif jika dilakukan berulang-ulang (Woolfolk, 2004).

Dalam diskusi, murid dapat secara langsung terlibat dan mempunyai kesempatan untuk berpartisipasi. Diskusi membantu murid belajar mengekspresikan diri lebih jelas, menimbang saran, dan mentoleransi pandangan yang berbeda. Diskusi juga memberi murid kesempatan untuk menanyakan klarifikasi, menguji pemikiran, mengikuti ketetarikan personal, dan mendapat tanggung jawab dengan menjadi pemimpin dalam kelompok.

1.1.4 Mastery Learning

Mastery Learning meliputi pembelajaran satu konsep atau topik melalui pembelajaran sebelumnya yang lebih sulit. Beberapa peneliti mengindikasi mastery learning efektif ketika murid menghabiskan waktu untuk membuat tugas.

1.1.5 Seatwork

Seatwork mengarah pada latihan atau keutamaan murid belajar independent di bangku mereka masing-masing. Pusat pembelajaran merupakan alternatif yang baik dalam penggunaaan paper and pencil seatwork.

1.1.6 Homework

Instruksi penting lain meliputi seberapa sering dan tipe dari homework yang diberikan kepada murid. Murid Asia lebih banyak menghabiskan waktu untuk melakukan homework daripada murid Amerika.

SMA - Teacher Centered Planning

Teacher-centered planning meliputi menciptakan behavioral objectives, analyzing tasks, dan pengembangan taksonomi instruksional.

1.1.1 Behavioral objectives adalah pernyataan bahwa komunikasi bertujuan untuk mengubah perilaku siswa untuk mencapai tingkat yang diinginkan. Menurut Robert Mager (Santrock, 2001), behavioral objectives harus sangat spesifik dn komunikasinya jelas. Mager percaya bahwa behavioral objectives mempunyai tiga bagian, yaitu:

· Perilaku siswa, berfokus pada siswa akan belajar atau berperilaku, mendeskripsikan aktivitas dalam perilaku yang diobservasi.

· Kondisi dimana perilaku akan terjadi, mengungkapkan bagaimana perilaku dapat dievaluasi atau diujikan.

· Kriteria penampilan, mengukur apakah tingkat penampilan diterima.

1.1.2 Task analysis yang berfokus pada memecahkan masalah yang kompleks agar murid belajar dalam bagian-bagian kecil.

1.1.3 Taksonomi instruksional. Taksonomi adalah klasifikasi sistem. Taksonomi Bloom dikembangkan oleh Benjamin Bloom dan koleganya, berfokus pada objek pendidikan dalam tiga bagian utama, yaitu kognitif, afektif dan psikomotor (Santrock, 2001).

Bagian kognitif mempunyai enam objek yaitu:

· Knowledge. Siswa mampu mengingat suatu informasi

· Comprehension. Siswa mengerti informasi dan dapat menjelaskan dalam kata-kata mereka sendiri.

· Application. Siswa menggunakan pengetahuan untuk menyelesaikan masalah hidup sehari-hari.

· Analysis. Siswa memecahkan masalah kompleks menjadi mudah dan menghubungkan informasi yang satu dengan yang lain.

· Synthesis. Siswa mengkombinasi elemen dan menciptakan informasi baru.

· Evaluation. Siswa mampu membuat evaluasi dan keputusan yang baik.

Dalam Bloom 2001 (Woolfolk, 2004),ditambahkan lagi proses pencapaian empat jenis pengetahuan,yaitu factual, conceptual, procedural, dan metacognitive.

Pada level afektif yang rendah, murid akan menyimpan ide-idenya, sedangkan pada level yang lebih tinggi, murid akan mengadaptasi ide atau nilai dan berperilaku dengan nilai tersebut. Bagian afektif mempunyai lima objek yang berhubungan dengan tugas respon emosi, yaitu:

· Receiving. Murid mampu berhati-hati atau memberi perhatian lebih pada lingkungan.

· Responding. Murid menjadi termotivasi untuk belajar dan menunjukkan perilaku baru sebagai hasil dari pengalaman.

· Valuing. Murid terlibat dalam beberapa pengalaman.

· Organizing. Murid mengorganisir nilai tertentu dan menginternalisasikan nilai menjadi bagian dalam dirinya.

· Value characterizing. Murid menjadikan nilai tersebut sebagai nilai dalam dirinya sendiri.

Bagian psikomotor berhubungan dengan aktivitas motorik dengan pendidikan fisik dan atletik, tetapi subyek lain seperti menulis termasuk dalam gerakan. Objek psikomotor Bloom meliputi:

· Reflex movements. Murid merespon gerakan tidak disadari dari stimulus.

· Basic fundamentals. Murid membuat dasar gerakan yang disadari yang bertujuan.

· Perceptual abilities. Murid menggunakan alat yang melibatkan persepsi.

· Physical abilities. Murid mengembangkan kemampuan umum.

· Skilled movements. Murid menunjukkan kemampuan fisik yang kompleks.

· Nondiscussive. Murid bisa mengkomunikasikan sesuatu melalui gerakan tubuh.